Imaji

Saya tidak memiliki teman khayalan yang rutin mengunjungi ketika saya masih kecil. Saya tidak bermain petak umpet atau berbicara dengan tokoh imaji karena sejak kecil saya bisa membedakan yang mana realitas yang mana negeri dongeng.

Saya menciptakan sebuah semesta, dengan karakter-karakternya dan baju-baju indahnya. Saya membuat sebuah cerita tanpa akhir yang bisa saya mainkan setiap saat. Saya memiliki peran dalam setiap cerita. Bukan sebagai Nana, tapi seringnya sebagai putri bungsu dari kerajaan di atas bukit atau seorang anak kecil yang suka menari di padang bunga lili atau entah wanita darimana yang terperangkap di sebuah rumah kaca dengan kurcaci-kurcaci.  

Biasanya secara otomatis saya akan terperangkap di semesta saya sebelum tidur, atau ketika makan, atau ketika saya ingin. Saya berbicara sebagai seorang tokoh dan menunggu tokoh lain menjawabnya. Saya bukan orang ketiga serba tahu, atau Tuhan pengatur segalanya. Saya membiarkan mereka, si tokoh-tokoh imaji mengontrol dirinya sendiri. Rasanya seperti bermain catur sendirian, saya kalah sekaligus menang dalam satu pertandingan.  

Terkadang orangtua atau kakak-kakak saya dapat menyaksikan ketika saya sedang berada di atas panggung. Sepersekian detik penuh keberuntungan sebelum saya sadar kalau mereka mendapati saya sedang sibuk sendirian. Mereka pikir itu wajar, saya sedang bersama teman khayalan.

Tapi itu bukan cuma dulu. Sampai saat ini saya masih memiliki semesta saya. Saya sering berkunjung, pada waktu-waktu yang tidak bisa saya ramalkan. Saat berjalan sendirian, di mobil sendirian, di rumah sendirian. Satu-satunya yang bisa mengembalikan saya hanyalah tatapan aneh dari orang-orang yang tiba-tiba lewat atau datang. Atau SMS dari teman yang mengatakan, “Ngapain lo ngomong sendiri di tengah jalan?”.

02/11/12 at 11:35am